Masih belum bolehkah hamba berganti? Masih kokohkah hamba untuk tetap berdiri? Masih mampukah hamba untuk tidak sama sekali melangkah pergi? Masih haruskah hamba menanti?
Apakah hamba memang membuat Engkau cemburu Tuhan, sehingga kau jatuhkan beban berat untuk menghajarku?
Kau hantamkan keras-keras rasa ini dihati Hamba, kau sadarkan bahwa terlalu mencintai ciptaanMu itu adalah nikmat yang menyakitkan. Benarkah prasangka ini wahai Engkau Penguasa langit dan bumi ?
Ya, sesungguhnya hati itu berada di antara jari-jariMu, Allah ‘azza wajalla, Engkaulah yang membolak-balikkannya.
Hamba memang bukan seorang penulis, Yaa Tuhan. Inilah pikiran malamku yang hendak ku kirimkan kepadaMu. Yang ku harap setiap ceritaku akan Engkau balas dalam tulisan, lalu akan kubukukan.
Engkau yang Maha Tahu dan Hamba yang paling lemah, surat ini tak akan pernah ada yang bisa menemukannya. Kecuali dia, pria yang selalu kuceritakan kepadamu di setiap detik ibadah malamku. Itupun hanya satu kali banding sepuluhribu (jika) dia mengingatku dan (jika) dia merindukanku. Khayal sekali cerita pen'jika'anku bukan ?.
Jika bukan dia yang kau jodohkan kepadaku, mengapa hati Hamba tertaut begitu kuat ?
Mengapa do'aku hanya kulafalkan untuknya, ketika do'anya sama sekali hanya untuk yang lain ?
Jika bukan hamba, bolehkah dia bahagia dengan cintanya ?
Dan jika bukan dia, bolehkah Engkau tunjukan hamba bahagia dengan yang yang lain saja ?
Ku mohon jelaskan Ya Allah, Tuhan penguasa Arsy :(
Aku pernah mengandaikan diriku sebagai langitMu. Meski sekarang aku sadar bahwa dengan menjadi langit yang setia menawarkan jutaan terang pun dia hanya akan tetap memilih menikmati hujan. Bukankah Kau ciptakan aku seperti ini dan tidak mungkin untuk menjadi hujan hanya untuk dipilihnya, Tuhan ?
Jika saat ini aku masih tertidur, lalu kapan Kau akan bangunkanku ?